27 Februari 2008

BBMWATCH NEWS Edisi Maret 2008

+ Harga Motor Gasoline (Mogas) Singapore yang menjadi acuan harga Premium mengalami penurunan cukup signifikan. Sehingga harga Keekonomian Premium pada periode Maret 2008 turun 3,4 % dibandingkan bulan sebelumnya menjadi Rp 7.351/ Liter.

+ Harga Gasoil Singapore yang menjadi acuan harga Solar mengalami penurunan. Harga keekonomian solar Maret 2008 turun 5% menjadi Rp. 7.737/ Liter. Sama halnya dengan Premium, maka beban subsidi solar (sektor transportasi) sedikit berkurang.

+ Hal yang sama juga terjadi pada harga kerosene Singapore sebagai acuan harga minyak tanah. Harga Keekonomian minyak tanah pada bulan Maret 2008 turun cukup besar yaitu 5,2% menjadi Rp. 7.762/ liter, akibatnya subsidi minyak tanah akan berkisar di level Rp. 5.700/ liternya.

+ Berdasarkan perhitungan BBMwatch, harga Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamina DEX (Solar Grade Tinggi) pada Maret 2008 nanti diperkirakan berturut-turut mencapai Rp. 7.400, Rp. 7.750, dan Rp. 8.700 per Liternya.

+ Untuk harga Bahan Bakar Nabati/ Biofuel sesuai dengan harga referensi Biodiesel dan Ethanol bulan Februari 2008 diperkirakan berturut-turut mencapai angka Rp. 4.900/liter (Ethanol/Bio-Premium) , dan Rp. 11.400/liternya (Biodiesel/Biosolar).

+ Harga LPG Saudi Aramco Contract Prices (Aramco CP) berdasar data akhir Februari 2008 yang dapat menjadi acuan harga keekonomian LPG bulan Maret 2008 di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 8.200/Kg.

+ Harga Minyak Mentah BCI-13 (Rata-rata Harga Minyak Mentah dari 13 Negara Pilihan BBMwatch berdasarkan aspek sensitivitas geopolitik & konsistensi volume produksi) mencapai US$ 92.44/ Barel. Total produksi per Februari 2008 dari negara BCI-13 mencapai 51.120.000 bph, sekitar 60% produksi dunia.

BBMWATCH PRICE GENERAL Edisi Tengah - Akhir Februari 2008

(Harga telah dikonversi ke dalam Rp sesuai kurs terbaru)

THAILAND
+ Gasohol 95 E-10 : Rp 8.200/liter (tgl efektif : 21 Feb 2008)
+ Gasohol 95 E-20 : Rp 7.700/liter (tgl efektif : 21 Feb 2008)
+ Gasohol 91 E-10 : Rp 8.000/liter (tgl efektif : 21 Feb 2008)
+ ULG 95 RON : Rp 9.400/liter (tgl efektif : 21 Feb 2008)
+ UGR 91 RON : Rp 9.000/liter (tgl efektif : 21 Feb 2008)
+ High Speed Diesel 0,05%S : Rp 8.300/liter (tgl efektif : 21 Feb 2008)
+ High Speed Diesel B5 : Rp 8.200/liter (tgl efektif : 21 Feb 2008)
+ LPG : Rp 5.200/kg (tgl efektif : 30 Jan 2008)
+ Margin Pemasaran : Rp 70/liter (tgl efektif : 22 Feb 2008)
+ Margin Kilang : Rp 570/liter (tgl efektif : 22 Feb 2008)

****

SINGAPURA
+ ULG 98 : Rp 13.500/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ ULG 95 : Rp 13.000/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ ULG 92 : Rp 12.800/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ Diesel : Rp 9.900/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)

****

MALAYSIA

+ Petrol RON 97 : Rp 5.172/liter (tgl efektif : 28 Feb 2006)
+ Petrol RON 92 : Rp 5.064/liter (tgl efektif : 28 Feb 2006)
+ Diesel : Rp 4.260/liter (tgl efektif : 28 Feb 2006)
+ LPG : Rp 4.715/kg (tgl efektif : 28 Feb 2006)

****

FILIPINA
+ Unleaded : Rp 9.300/liter (tgl efektif : 12 Feb 2008)
+ V Power/Blaze : Rp 10.200/liter (tgl efektif : 12 Feb 2008)
+ E-10 : Rp 9.100/liter (tgl efektif : 12 Feb 2008)
+ Diesel : Rp 7.600/liter (tgl efektif : 12 Feb 2008)
+ Kerosene : Rp 8.800/liter (tgl efektif : 12 Feb 2008)
+ LPG : Rp 12.200/kg (tgl efektif : 12 Feb 2008)

****

AUSTRALIA

+ Unleaded Petrol : Rp 11.400/liter (tgl efektif : 26 Feb 2008)
+ Premium Unl Petrol : Rp 11.900/liter (tgl efektif : 26 Feb 2008)
+ Diesel : Rp 12.200/liter (tgl efektif : 26 Feb 2008)
+ LPG : Rp 5.600/liter (tgl efektif : 26 Feb 2008)
+ 98 RON : Rp 12.300/liter (tgl efektif : 26 Feb 2008)
+ B20 Diesel : Rp 11.800/liter (tgl efektif : 26 Feb 2008)

****

INGGRIS
+ Unleaded : Rp 18.800/liter (tgl efektif : 24 Feb 2008)
+ Diesel : Rp 19.800/liter (tgl efektif : 24 Feb 2008)
+ LRP : Rp 19.200/liter (tgl efektif : 24 Feb 2008)
+ Super : Rp 20.000/liter (tgl efektif : 24 Feb 2008)
+ LPG : Rp 9.700/liter (tgl efektif : 24 Feb 2008)

****

AMERIKA SERIKAT

Gasoline Regular Grade
+ East Coast : Rp 7.500/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ New England : Rp 7.500/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ Central Atlantic : Rp 7.500/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ Lower Atlantic : Rp 7.500/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ Midwest : Rp 7.400/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ Gulf Coast : Rp 7.300/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ Rocky Mountain : Rp 7.300/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ West Coast : Rp 7.800/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)

Diesel
+ East Coast : Rp 8.600/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ New England : Rp 8.900/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ Central Atlantic : Rp 8.800/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ Lower Atlantic : Rp 8.500/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ Midwest : Rp 8.500/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ Gulf Coast : Rp 8.400/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ Rocky Mountain : Rp 8.300/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)
+ West Coast : Rp 8.600/liter (tgl efektif : 25 Feb 2008)

****

AFRIKA SELATAN
(tanggal efektif : 6 Feb 2008)

Petrol 95 ULP
+ Zona Gauteng : Rp 9.900/liter
+ Zona Pesisir : Rp 9.600

Diesel
+ Zona Gauteng : Rp 9.500/liter
+ Zona Pesisir : Rp 9.340/liter

Illuminating Paraffin
+ Zona Gauteng : Rp 7.500/liter
+ Zona Pesisir : Rp 7.200/liter

26 Februari 2008

BBMWATCH PRICE EUROPE Edisi FEBRUARI 2008


(Harga telah dikonversi ke dalam Rp sesuai kurs terbaru)

+ Austria : (Rp 15.800/liter – Unleaded), (Rp 15.400/liter – Diesel)
+ Belgia : (Rp 19.400/liter – Unleaded), (Rp 15.500/liter – Diesel)
+ Rep Ceko : (Rp 16.200/liter – Unleaded), (Rp 16.400/liter – Diesel)
+ Denmark : (Rp 19.000/liter – Unleaded), (Rp 17.800/liter – Diesel)
+ Finlandia : (Rp 19.000/liter – Unleaded), (Rp 16.200/liter – Diesel)
+ Perancis : (Rp 17.800/liter – Unleaded), (Rp 15.900/liter – Diesel)
+ Jerman : (Rp 18.500/liter – Unleaded), (Rp 16.900/liter – Diesel)
+ Yunani : (Rp 14.500/liter – Unleaded), (Rp 14.700/liter – Diesel)
+ Belanda : (Rp 20.700/liter – Unleaded), (Rp 18.100/liter – Diesel)
+ Hongaria : (Rp 15.000/liter – Unleaded), (Rp 15.200/liter – Diesel)
+ Irlandia : (Rp 16.000/liter – Unleaded), (Rp 16.100/liter – Diesel)
+ Italia : (Rp 18.500/liter – Unleaded), (Rp 18.100/liter – Diesel)
+ Luksembourg : (Rp 15.600/liter – Unleaded), (Rp 13.700/liter – Diesel)
+ Estonia : (Rp 13.100/liter – Unleaded), (Rp 14.300/liter – Diesel)
+ Norwegia : (Rp 20.900/liter – Unleaded), (Rp 20.400/liter – Diesel)
+ Latvia : (Rp 13.200/liter – Unleaded), (Rp 13.500/liter – Diesel)
+ Lithuania : (Rp 13.800/liter – Unleaded), (Rp 14.000/liter – Diesel)
+ Polandia : (Rp 16.100/liter – Unleaded), (Rp 15.000/liter – Diesel)
+ Slowakia : (Rp 15.900/liter – Unleaded), (Rp 16.700/liter – Diesel)
+ Slovenia : (Rp 13.800/liter – Unleaded), (Rp 13.900/liter – Diesel)
+ Portugal : (Rp 18.500/liter – Unleaded), (Rp 15.800/liter – Diesel)
+ Spanyol : (Rp 14.600/liter – Unleaded), (Rp 14.000/liter – Diesel)
+ Swedia : (Rp 18.100/liter – Unleaded), (Rp 18.300/liter – Diesel)
+ Swiss : (Rp 14.500/liter – Unleaded), (Rp 15.800/liter – Diesel)

20 Februari 2008

Penanggulangan Kelangkaan BBM di Bangka Belitung

PENANGGULANGAN KELANGKAAN BBM DI PROVINSI BANGKA BELITUNG, GUNA MENINGKATKAN KEAMANAN PASOKAN JANGKA PANJANG
(Kajian Aspek Strategis Energi- BBM)
Oleh : Prof Hardi Prasetyo

KEBIJAKAN DAN STRATEGI TERPADU

Konstrain Peningkatan Infrastruktur
Peningkatan infrastruktur Depot Pertamina di Bangka harus sangat memperhatikan bahwa kelangkaan bersifat temporal dan bermusim (seasonal) yang dipicu oleh kondisi global meningkatnya harga komoditas timah di pasar internasional. Dalam kaitan ini pada skenario harga timah menurun, maka data histori menunjukkan penurunan kegiatan pertambangan timah rakyat dan smelter, yang akan menurunkan permintaan BBM.

Kebijakan
Meningkatkan keamanan pasokan BBM di Provinsi Bangka Belitung melalui pengendalian permintaan BBM khususnya minyak solar untuk sektor pertambangan rakyat alokasi Usaha Kecil dan industri smelter alokasi industri timah, memperbesar kapasitas depot BBM di Bangka dan mekanisme distribusi pool konsumen (UK), serta melakukan penegakkan hukum terhadap penyalahgunaan BBM.

Strategi
Menetapkan fenoma kelangkaan BBM di Provinsi Babel sebagai suatu yang khusus atau tidak biasanya, dengan meningkatkan koordinasi secara terpadu antara pihak- pihak Pemerintah Pusat antara lain Departemen Energi (Ditjen Migas, Ditjen GSM), Departemen Perindustrian, Departemen Kehakiman/ HAM, Departemen Dalam Negeri, Departemen Keuangan, BPH Migas, PT Pertamina, PT Timah, Timdu BBM; maupun di tingkat Pemda Babel (Bapeda, Dinas Pertambangan dan Energi, Dinas Perindustrian, Dinas Perdagangan) guna mencari solusi jangka pendek, menengah dan panjang terhadap kelangkaan BBM bersubsidi di Babel.


UPAYA

Instrumen Regulasi
DPR RI:
Menyempurnakan substansi Undang- undang terkait dengan APBN tahun terkait substansi pengeluaran Subsidi BBM dan alokasi Volume BBM (59, 9 juta kilo liter), dan Undang- undang No. 9 tahun 1990 tentang Usaha Kecil.

Instrumen Kebijakan Nasional
Departemen Energi dan SDM:

Meningkatkan Sosialisasi Good Mining Practice, Good Corporate Governance terkait kepatuhan perusahaan tambang termasuk TI dan Smelter timah dalam menggunakan sumber energi BBM yang sesuai peruntukkannya.
Meningkatkan Penanggulangan Pertambangan Tanpa Izin (PETI), yang disinyalir masih sangat marak;
Memperjelas ketentuan tentang peruntukan BBM untuk Usaha Kecil yang tersurat pada Peraturan Presiden No. 22 tahun 2005, diselaraskan dengan UU No. 9 tahun 1990 tentang Usaha Kecil;

Departemen Perdagangan:
Mengawasi perizinan ekspor timah batangan terutama yang dihasilkan oleh industri smelter yang disinyalir dicukongi dari investor luar negeri (terutama Singapura, maraknya smelter pada akhirnya telah memicu peningkatan permintaan BBM);

Departemen Perindustrian:
Mengawasi pertumbuhan yang sangat cepat dari industri tambang rakyat dan smelter timah, sehingga memicu kelebihan permintaan (net demand) dari yang dialokasikan di Provinsi Babel.
Melakukan klasifikasi usaha pertambangan rakyat dan semelter yang dapat dikategorikan sebagai usaha kecil, agar terhindar pemodal asing menikmati subsidi BBM;

Departemen Keuangan:
Ditjen Bea Cukai mengawasi ekspor illegal dari komoditas Timah, yang memicu maraknya pertambangan timah rakyat (illegal) dan industri smelter;

Departemen Dalam Negeri:
Gubernur dan jajarannya mengawasi maraknya pertambangan timah rakyat dan smelter serta secara khusus melalui jajarannya mempertegas Usaha Kecil pertambangan timah rakyat untuk mengambil BBM melalui mekanisme Pool Konsumen, dan mempertegas ketentuan pengaturan UK yang dapat mengambil BBM di SPBU setelah mendapatkan rekomendasi dari Deperin;

POLRI:
Melakukan penegakkan hukum terhadap maraknya Pertambangan Tanpa Izin;
Membantu Pertamina dalam menertipkan distribusi BBM di tingkat SPBU, karena disinyalir di beberapa SPBU di Pangkal Pinang dan Mentok dikuasi para “preman” atau “sindikat Mafia BBM”;
Berkoordinasi dengan Timdu BBM melaksanakan Penegakkan Hukum terhadap penyalahgunaan BBM terutama alokasi BBM bersubsidi di SPBU dan pool konsumen untuk kepentingan industri smelter.

Instrumen Pengaturan Migas
Badan Pengatur Hilir Migas (BPH Migas):

BPH Migas, menyempurnakan hal- hal terkait Wilayah Niaga dan Stok Operasional di wilayah tertentu (Provinsi Babel), di mana permintaan BBM dapat meningkat secara seasonal dipicu oleh kondisi eksternal, yaitu naiknya secara signifikan kegiatan industri (dalam hal ini tambang rakyat dan smelter timah). Hal ini dapat dianalogikan kenaikan permintaan minyak tanah pada musim panen tembakau di berbagai daerah tertentu.

Instrumen Pengadaan, Distribusi dan Tata Niaga
PT Pertamina

Berkoordinasi dengan DESDM untuk menyempurnakan ketentuan peruntukan BBM untuk Usaha Kecil sebagaimana dipayungi oleh Peraturan Presiden No 22 tahun 2005, di mana saat ini sebagian besarpertambangan rakyat dan semelter timah cenderung masih mengambil BBM dari SPBU;
Meningkatkan kapasitas Depot Bangka atau pengamanan pasokan BBM dari Transit Terminal Tanjung Gurem, Banten sehingga lonjakan permintaan premium dan solar untuk usaha kecil dan industri smelter dapat diakomodasikan, tanpa mengganggu kepentingan pokok sektor transportasi umum dan mobil pribadi di SPBU;
Memastikan bahwa industri smelter timah harus mengambil BBM langsung dari Pertamina dengan harga industri sebagaimana ketentuan yang tersurat pada Perpres 22/ 2005 (bekerjasama dengan Dinas Pertambangan dan Dinas Perindustrian);
Mengaktualisasikan mekanisme pool konsumen khusus untuk UK dari sektor pertambangan timah rakyat (bekerjasama dengan Pemda dan Dinas Perindustrian);
Menyempurnakan Protap keamanan dan ketertiban distribusi BBM di SPBU dari intervensi para “provokator” atau “mafia BBM” (berkoordinasi dengan pihak Polri dan Pemda);
Mengambil langkah- langkah antisipatif agar Minyak Tanah untuk Rumah Tangga dan UK dapat diamankan dari skenario terburuk, dimana ia juga akan digunakan untuk sektor pertambangan serta industri smelter timah (berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Polri).

Instrumen pembinaan masyarakat industri dan Pengembangan Masyarakat (Community Development)
PT Timah sebagai BUMN

Sebagai price serta market leader komoditas timah serta mineral ikutannya di Provinsi Babel pada khususnya dan Indonesia pada umumnya memainkan peran untuk solusi kelangkaan BBM di Babel pada jangka panjang;
Di sisi hulu melakukan pengembangan masyarakat antara lain melalui program kemitraan strategis (strategic partnership),diantaranya terbangun komitmen pertambangan timah rakyat menggunakan energi BBM dari sumber pool konsumen, dan mengurangi Pertambangan tanpa Izin tidak menerapkan kaidah good mining practice serta merusak lingkungan hidup;
Di sisi hilir kesamaan persepsi terhadap kaidah good cooperate governance di kalangan industri smelter timah di Babel, sehingga diharapkan dapat meningkatkan komitmen industri smelter untuk menggunakan sumber energi BBM non- subsidi;

Instrumen Penanggulangan Penyalahgunaan BBM
Timdu BBM

Timdu BBM yang berada di bawah Kementrian Polhukkam dimana telah eksis kembali bulan April 2005 dapat menempatkan Fenomena Kelangkaan BBM di Provinsi Babel sebagai prioritas program kerja tahun 2005;
Dalam melaksanakan pemantauan, pengawasan dan evaluasi Penyalahgunaan BBM di Babel Timdu BBM berkoordinasi dengan pihak Pertamina, Pemda dan Departemen terkait.;
Sesuai dengan ketentuan yang digariskan oleh Menko Polhukam, dalam memasuki wilayah Penegakan Hukum (Gakkum) Timdu BBM mengedepankan pihak Polri dan Kejaksaan.

Instrumen Sosialisasi Subsidi Harga BBM:
Tim Sosialisasi Subsidi Harga BBM DESDM
Secara proaktif melakukan pencerahan Subsidi Harga BBM (Minyak Tanah, Solar dan Premium) yang tepat sasaran dan berkeadilan, untuk menggelorakan kepedulian khususnya dari kelompok industri pertambangan rakyat dan industri smelter, serta seluruh komponen masyarakat;
Agenda sosialisasi harus khusus dirancang sebagai bagian menyeluruh untuk mencari solusi yang komprehensif dan integral terhadap fenomena kelangkaan BBM dipicu oleh meningkatnya permintaan yang sangat signifikan dari kelompok industri pertambangan, namun terjadi distorsi karena mendistorsi tata niaga BBM bersubsidi di SPBU.


KESIMPULAN
1. Fenomena Kelangkaan BBM di Babel yang terjadi April sampai awal Mei 2005 telah dikendalikan oleh semakin maraknya Tambang Inkonvensional dan industri Smelter Timah yang menggunakan BBM terutama jenis solar dengan jumlah yang signifikan, sehingga telah menimbulkan defisit pasokan. Hal ini pada akhirnya SPBU untuk solar bersubsidi mengalami serangan terutama dari TI, sehingga menimbulkan kelangkaan, yang memicu terjadinya gangguan ketertiban dan keamanan;

2. Penyelesaian jangka pendek tanggal 6 Mei yang dilakukan dengan menyediakan pasokan secara berlebihan pada TI dan Smelter dikhawatirkan akan menimbulkan over alokasi BBM di Babel yang harus ditanggung Pertamina, sedangkan masalah mendasar tidak dituntaskan;

3. Penyelesaian jangka menegnah- panjang harus ditempuh dengan pendekatan integral yaitu menertipkan keberadaan TI dan PETI timah secara umum, dan secara khusus memastikan bahwa Smelter dan TI mendapatkan BBM melalui mekanisme pool konsumen;

4. Ketentuan yang membolehkan UK secara besar- besaran walaupun menggunakan alat bantu jerigen yang terbatas volumenya dengan membeli BBM dari SPBU, bila terus berlanjut walaupun dengan pengawasan, menimbulkan inkonsistensi peraturan;
5. Pengalihan dari SPBU ke pool konsumen bagi TI pada masa transisi akan menimbulkan gejolak, yaitu hilangnya pekerjaan dari para pengecer dan “preman BBM”, sehingga harus disiapkan kontijensi. S


SARAN KEBIJAKAN
1. Fenomena Kelangkaan BBM di Babel beserta alternatif solusi dapat digunakan sebagai proto tipe pada daerah- daerah lainnya dengan kondisi pengendali mekanisme (driving force mechanism) yang sama, yaitu meningkatnya permintaan BBM secara temporal (seasonal) yang dalam hal ini dipicu oleh maraknya pertambangan timah rakyat dan industri smelter timah, pada kondisi harga timah di pasar Internasional tinggi. Untuk itu disarankan untuk dapat dibentuk tim pemantau di Jakarta di bawah koordinasi Ditjen Migas dengan anggota BPH Migas, Pertamina;
2. Penyelesaian Fenomena Babel jangka pendek juga digunakan untuk meredam serangan terhadap Pemerintah di DPR maupun publik dikaitkan dengan saat pembahasan APBN- 2005, pasca kenaikan harga BBM 1 Maret 2005 di bawah Peraturan Presiden No. 22/ 2005;
3. Pelajaran yang dapat dipetik dalam kaitan dengan perlunya melakukan respon cepat terhadap fenomena kelangkaan BBM adalah mengoptimalkan “Crisis Centre BBM” yang pada eskalasi yang bermakna perlu segera memetakan anatomi dan pengendali mekanisme di lapangan beserta alternatif solusi jangka pendek. Hal ini dapat disetarakan dengan Inpres tentang Task Force (Pasukan Gerak Cepat) dengan didukung oleh pelaksana yang professional, bereaksi cepat tanpa hambatan birokrasi, langsung melapor ke MESDM, dan disediakan dukungan logistik yang memadai. Elemen awal dari Tim Reaksi Cepat ini keberadaannya sudah ada di BPH Migas dan PT Pertamina, sehingga DESDM hanya perlu untuk mengintegrasikan dan mendinamisasikannya;
4. Beban cukup berat dalam pengadaan BBM tambahan untuk menerapkan mekanisme pool konsumen baik bagi pertambangan timah rakyat maupun industri smelter timah, dapat diperingan dengan mengajak pihak swasta lainnya untuk bermitra dalam usaha pengangkutan dan penyimpanan BBM di Babel, merupakan paradigma baru dibukanya pasar BBM di Indonesia pasca UU Migas tahun 2001.
5. Fenomena kelangkaan BBM di Babel beserta solusinya juga dapat digunakan sebagai suatu learning process khususnya bagi BPH Migas, untuk mengantisipasi amanah Undang- undanga Migas Tahun 2001 dimana memberikan amanat bahwa PT Pertamina mengakhiri tugas Public Service Obligation dalam mengadakan dan mendistribusikan BBM secara monopoli di Indonesia.

16 Februari 2008

Meski Diprotes, SPBU Tetap Dibangun

Sumber : Kompas, 9 Februari 2008

Jakarta, - Pembangunan stasiun pengisian bahan bakar untuk umum atau SPBU Kebon Bawang di tepi jalan protokol Yos Sudarso, Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengundang kontroversi karena sejak awal mengabaikan keberatan masyarakat.

Pemberian izin usaha dan izin mendirikan bangunan (IMB) oleh instansi terkait juga masih dipersoalkan karena diduga menyalahi peruntukan kawasan. ”Surat-surat izin yang diterbitkan bagi SPBU itu mengesampingkan protes publik dan pengaduan masyarakat,” kata Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Yuliadi, Jumat (8/2) siang.

Seperti diberitakan sebelumnya, pembangunan SPBU Kebon Bawang diduga menyalahi peruntukan lahan yang ditetapkan dalam tata ruang kota, seperti tertuang dalam block plan Jakarta Utara. Kawasan ini sebenarnya didesain untuk pergudangan dan perkantoran, bukan untuk SPBU.

Menurut Yuliadi, jauh sebelum berdiri bangunan SPBU sudah pernah ada pengaduan dari berbagai kalangan masyarakat sekitar. Namun, instansi terkait terus menerbitkan surat izin hingga akhirnya SPBU itu berdiri di tepi jalan protokol Yos Sudarso.

”Jalan Yos Sudarso termasuk jalur hight control dan jalur ekonomi padat. Izin yang diberikan harus mempertimbangkan berbagai aspek. Saya juga lihat, fakta di lapangannya ada beberapa keanehan,” kata Yuliadi.

Misalnya, kata Yuliadi, fisik bangunan SPBU terlalu dekat dengan jalan raya. Suku Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan (P2B) harus meneliti kembali, apakah garis sempadan bangunan SPBU sudah ideal atau tidak. ”Tetapi saya pribadi melihat, fisik bangunannya terlalu dekat dan menjorok ke jalan,” katanya.


Saling lempar

Kepala Suku Dinas Tata Kota Jakarta Utara Robby Ifrani tetap mengatakan bahwa sesuai block plan Jakarta Utara, kawasan yang kini dijadikan SPBU itu didesain untuk pergudangan dan perkantoran. Jika di lapangan ada perubahan dan tidak sesuai dengan desain, hal itu bukan lagi masuk dalam kewenangannya.

Meski demikian, Robby menambahkan, pembangunan SPBU itu secara teknis di atas kertas sudah mengikuti prosedur yang dipersyaratkan. ”Hanya saja, aplikasi di lapangan yang berbeda dan untuk itu harus diteliti kembali,” katanya.

Kepala Suku Dinas Pertamanan Jakarta Utara Nandar Sunandar juga mengaku sempat terkejut mengetahui dua pohon angsana dibabat untuk akses masuk ke SPBU. Setelah dia mengecek, ternyata pihak pengelola SPBU sudah mendapat izin dari Dinas Pertamanan. Biasanya, izin diberikan setelah semua persyaratan terpenuhi.

Camat Tanjung Priok Darwis M Aji juga sempat mempersoalkan pembongkaran saluran air untuk jalan masuk SPBU. Namun, Kepala Suku Dinas PU Jalan Jakarta Utara Hilman Echidor menjelaskan, pihaknya menerbitkan izin pembongkaran karena pihak SPBU memenuhi persyaratan yang diminta PU Jalan.

Kepala Suku Dinas P2B Jakarta Utara Ardi Hutapea mengakui, pihaknya telah menerbitkan surat IMB bagi pengelola SPBU. ”Namun, IMB diberikan setelah seluruh persyaratan yang dibutuhkan terpenuhi oleh pengelola SPBU,” katanya.
Persyaratan itu, antara lain, adanya keterangan rencana kota (KRK) dari Tata Kota. Pihak pengelola SPBU juga memiliki rencana tata letak bangunan (RTLB) dan surat rekomendasi dari Dinas Pertambangan DKI Jakarta.

Pengelola SPBU juga telah memiliki sertifikat tanah dan akta pendirian perusahaan. Juga ada rekomendasi dari Dinas Perhubungan dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Jakarta. Yuliadi berharap penerbitan izin itu dapat dipertanggungjawabkan. (CAL)

15 Februari 2008

HARGA BBM DI ASEAN FEBRUARI 2008

Berikut adalah perkembangan terbaru harga BBM yang dijual dibeberapa negara tetangga ASEAN. (Sumber: BBMWATCH PRICE GENERAL Edisi Awal Februari 2008, Harga telah dikonversi ke dalam Rp sesuai kurs terbaru)

THAILAND
+ Gasohol 95 E-10 : Rp 8.000/liter (tgl efektif : 1 Feb 2008)
+ Gasohol 95 E-20 : Rp 7.500/liter (tgl efektif : 1 Feb 2008)
+ Gasohol 91 E-10 : Rp 7.800/liter (tgl efektif : 1 Feb 2008)
+ ULG 95 RON : Rp 9.200/liter (tgl efektif : 1 Feb 2008)
+ UGR 91 RON : Rp 8.900/liter (tgl efektif : 1 Feb 2008)
+ High Speed Diesel 0,05%S : Rp 8.200/liter (tgl efektif : 1 Feb 2008)
+ High Speed Diesel B5 : Rp 8.000/liter (tgl efektif : 1 Feb 2008)
+ LPG : Rp 5.200/kg (tgl efektif : 30 Jan 2008)
+ Margin Pemasaran : Rp 300/liter (tgl efektif : 13 Feb 2008)
+ Margin Kilang : Rp 360/liter (tgl efektif : 13 Feb 2008)

****

SINGAPURA
+ ULG 98 : Rp 13.500/liter (tgl efektif : 13 Feb 2008)
+ ULG 95 : Rp 13.000/liter (tgl efektif : 13 Feb 2008)
+ ULG 92 : Rp 12.800/liter (tgl efektif : 13 Feb 2008)
+ Diesel : Rp 9.900/liter (tgl efektif : 13 Feb 2008)

****

MALAYSIA

+ Petrol RON 97 : Rp 5.172/liter (tgl efektif : 28 Feb 2006)
+ Petrol RON 92 : Rp 5.064/liter (tgl efektif : 28 Feb 2006)
+ Diesel : Rp 4.260/liter (tgl efektif : 28 Feb 2006)
+ LPG : Rp 4.715/kg (tgl efektif : 28 Feb 2006)

****

FILIPINA
+ Unleaded : Rp 9.800/liter (tgl efektif : 12 Des 2007)
+ V Power/Blaze : Rp 10.600/liter (tgl efektif : 12 Des 2007)
+ E-10 : Rp 9.350/liter (tgl efektif : 12 Des 2007)
+ BioDiesel : Rp 8.200/liter (tgl efektif : 12 Des 2007)
+ Kerosene : Rp 9.100/liter (tgl efektif : 12 Des 2007)
+ LPG : Rp 12.800/kg (tgl efektif : 12 Des 2007)

****


AUSTRALIA

+ Unleaded Petrol : Rp 11.300/liter (tgl efektif : 13 Feb 2008)
+ Premium Unl Petrol : Rp 11.900/liter (tgl efektif : 13 Feb 2008)
+ Diesel : Rp 12.100/liter (tgl efektif : 13 Feb 2008)
+ LPG : Rp 5.700/liter (tgl efektif : 13 Feb 2008)
+ 98 RON : Rp 12.200/liter (tgl efektif : 13 Feb 2008)
+ B20 Diesel : Rp 11.750/liter (tgl efektif : 13 Feb 2008)

****

INGGRIS
+ Unleaded : Rp 18.700/liter (tgl efektif : 12 Feb 2008)
+ Diesel : Rp 19.600/liter (tgl efektif : 12 Feb 2008)
+ LRP : Rp 19.300/liter (tgl efektif : 12 Feb 2008)
+ Super : Rp 19.900/liter (tgl efektif : 12 Feb 2008)
+ LPG : Rp 9.700/liter (tgl efektif : 12 Feb 2008)

****

AMERIKA SERIKAT

Gasoline Regular Grade
+ East Coast : Rp 7.200/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)
+ New England : Rp 7.300/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)
+ Central Atlantic : Rp 7.300/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)
+ Lower Atlantic : Rp 7.100/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)
+ Midwest : Rp 7.150/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)
+ Gulf Coast : Rp 6.900/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)
+ Rocky Mountain : Rp 7.100/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)
+ West Coast : Rp 7.400/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)

Diesel
+ East Coast : Rp 8.100/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)
+ New England : Rp 8.600/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)
+ Central Atlantic : Rp 8.300/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)
+ Lower Atlantic : Rp 7.900/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)
+ Midwest : Rp 7.900/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)
+ Gulf Coast : Rp 7.900/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)
+ Rocky Mountain : Rp 7.900/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)
+ West Coast : Rp 8.100/liter (tgl efektif : 11 Feb 2008)

****

AFRIKA SELATAN
(tanggal efektif : 6 Feb 2008)

Petrol 95 ULP
+ Zona Gauteng : Rp 9.900/liter
+ Zona Pesisir : Rp 9.600

Diesel
+ Zona Gauteng : Rp 9.500/liter
+ Zona Pesisir : Rp 9.340/liter

Illuminating Paraffin
+ Zona Gauteng : Rp 7.500/liter
+ Zona Pesisir : Rp 7.200/liter

13 Februari 2008

SPBU PERTAMA DI DUNIA


Sumber : Chevron

Lahirnya SPBU

Adalah sebuah era dimana lalu-lintas di Amerika banyak menggunakan kuda ataupun kereta kuda. Setelah ditemukannya minyak dan kendaraan berbahan bakar gasolin maka para pengendara mulai berburu tempat penjualan gasolin seperti toko serba ada ataupun toko besi yang menjual bahan bakar tersebut serta pelumas.

Pada tahun 1907, John McLean seorang manajer penjualan Standar Oil Co (California) di Seattle - kelak menjadi Chevron, mendapatkan ide cemerlang. Ia memasang tangki berkapasitas 30 galon lalu menyambungkannya dengan selang untuk mengalirkan gasolin serta diujung selang ia memasang gelas ukur untuk menakar jumlah gasolin yang akan dijual kepada pembeli. Dengan dilengkapi atap dari kanvas, jalur kendaraan serta meteran untuk mengetahui jumlah bahan bakar yang dijual maka jadilah sebuah SPBU pertama di dunia. Meskipun pada awalnya banyak mendapat perlawanan dari pemerintah lokal karena takut akan bahaya kebakaran namun masyarakat begitu terbuai dengan pelayanan SPBU ini. Tahun 1914, Standard mengoperasikan 34 SPBU dan mereka menyebutnya pada waktu itu dengan istilah berada di 6 kota di California.

Dengan ditambahkannya fasilitas air bersih dan udara bagi ban kendaraan secara gratis maka berkembang menjadi stasiun layanan bahan bakar. Para pemilik kendaraan begitu tertarik mengunjungi SPBU jenis ini karena pemandangan dan model tamannya yang banyak diiikuti oleh seluruh SPBU milik Standard selama Perang Dunia I setelah Presiden Woodrow Wilson meminta warga Amerika untuk menjalankan gerakan taman rumah.


Rival Jarak Jauh

Periode pasca perang merupakan saat yang dramatis bagi pertumbuhan bisnis SPBU perusahaan ini. Akhir tahun 1919, Standard Oil Co (California) memiliki 218 SPBU yang tersebar di Washington, Oregon, California, Nevada serta Arizona yang jumlah ini adalah lebih banyak dari jumlah SPBU 3 perusahaan pesaingnya jika digabungkan. Empat tahun kemudian jumlah SPBU milik perusahaan ini bertambah menjadi 700 unit yang tersebar di lima negara bagian tadi.

Dengan terus meningkatnya sistem jalan raya maka semakin mendorong para pemilik kendaraan untuk bepergian dengan jarak yang jauh. Oleh karenanya Standard menarik para pemilik kendaraan dengan menambahkan fasilitas kenyamanan di SPBUnya seperti ruang istirahat dan air minum dingin saat cuaca panas. Fasilitas lainnya yang ditawarkan adalah pemeriksaan oli dan pembersihan karburator.

One-stop motoring

Standard memperkenalkan Standard Lubrication System yang terdiri dari 31 operasi terpisah dan belasan produk lainnya dengan harga sama di semua SPBU milik Standard pada awal 1928. Dengan terus ditambahkannya berbagai fasilitas layanan seperti pemeriksaan ban, lampu kendaraan, serta baterai kendaraan maka Standard telah mempelopori usaha layanan one stop motoring.

Layanan ini bersamaan dengan didirikannya Standard Stations Inc, sebuah anak perusahaan yang mengoperasikan seluruh fasilitas SPBU pada tahun 1931. Tanda SPBU ini berupa lampu neon berwarna merah, putih dan biru membentuk logo chevron (tanda kepangkatan). Saat Amerika memasuki depresi ekonomi maka Standard mulai fokus pada peningkatan bisnis melalui standarisasi, tampilan menarik dan mudah dikenali, kualitas produk, layanan superior dan beroperasi secara efisien.


Tampilan Harmoni

SPBU milik Standard Oil Co. of California didesain untuk menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitarnya. Misalnya Standard membangun sebuah SPBU dengan type outdoor untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan pegunungan dan alam pedesaan di Amerika Serikat bagian barat.

Setelah Perang Dunia II, perusahaan meluncurkan Program SPBU Chevron di fasilitas yang dioperasikan oleh dealer swasta. Program ini bertujuan untuk memperkuat pengenalan konsumen atas BBM dan brand Chevron. Upaya pemasaran yang dilakukan Standard terus tumbuh pada akhir 1940an saat anak perusahaan ini mengoperasikan 2.360 SPBU Calso (California Standard Oil) di Timur Laut AS. Sepuluh tahun kemudian perusahaan ini mengubah brand SPBU Calso menjadi Chevron.

Pertumbuhan jaringan SPBU terus meningkat pada tahun 1961 saat Standard of Kentucky menjadi anggota keluarga Standard Oil Company of California. Dengan jumlah SPBU mencapai 8.500 unit, Standard of Kentucky terus memimpin persaingan dalam bisnis produk BBM di lima negara bagian yaitu Kentucky, Georgia, Florida, Alabama dan Mississippi.


Logo Kesuksesan

Tahun 1969, 2 tahun setelah dilakukan studi identitas korporat, Standard membuat logo baru berupa dua garis tebal berwarna biru dan merah sejajar menyerupai huruf V dengan kata Chevron diatasnya. Logo ini disebar di seluruh SPBU, pabrik pengepakan, kendaraan, kantor maupun kapal tempat dimana perusahaan ini melakukan usahanya yang mencerminkan tujuan terbaik yang dicapai di masa lalu, kualitas esensial perusahaan, serta menjadi perusahaan energi global di masa depan.


Menggabungkan citra

Tahun 1970an, Standard Oil Co of California memperkenalkan jenis SPBU Hallmark dan Suburban. Desain SPBU Hallmark bercirikan atap yang rata dan bersih dengan garis-garis kontemporer sedangkan SPBU Suburban atapnya mirip dengan bangunan perumahan penduduk.

Dimanapun Standard beroperasi maka yang terbayang adalah perusahaan yang
memberikan citra modern, berorientasi teknis, dan berskala internasional. Keseragaman arsitektur, tata letak, logo perusahaan dan warna memudahkan pemilik kendaraan mengenali SPBU Chevron dan kualitas bahan bakar yang dijualnya. Saat Chevron merger dengan Gulf Corporation maka 3.600 unit SPBU milik Gulf mengadopsi brand Chevron yang bernama ”Hallmark 21”. Saat yang sama ada sejumlah kecil SPBU Gulf yang tetap memakai brand lama untuk mempertahankan konsumennya.


Waktu berganti, meningkatkan standar

Tahun 1988, Chevron meluncurkan program pemasarn retail yang bernama “Commitment to Service Excellence” guna meningkatkan layanan konsumen. Tujuan utama program ini adalah agar dealer Chevron menawarkan produk kualitas tinggi dengan harga yang bersaing, memenuhi waktu operasi, menawarkan sejumlah cara pembayaran, keamanan, akses mudah menuju SPBU, kemudahan mengoperasikan pompa gasolin, kebersihan, SPBU yang menarik serta terang dengan cahaya lampu, juga layanan yang prima.

Untuk mempercepat transaksi di SPBU, Chevron menjadi perusahaan pertama dalam industi ini yang menggunakan jaringan satelit dalam mengelola kartu kredit. Sistem ini dikenal dengan nama Fast Pay yang terdiri dari alat pembaca kartu kredit yang dirancang bergabung dengan pompa gasolin serta dihubungkan dengan satelit yang mengorbit diatas kepulauan Galapagos. Dengan terus berkembangnya inovasi di SPBU maka Chevron telah jauh berkembang dari konsep SPBU awal yang dibangun di Seattle 9 dekade lalu yang belum sepenuhnya memuaskan konsumen.

Apa yang akan dikatakan oleh sang penemu SPBU bernama John McLean jika ia berjalan diantara SPBU Chevron hari ini? Mungkin ia akan berkata, “Isilah kendaraan Anda dengan bahan bakar dari Chevron yang menggunakan Techron.”

MEKANISME HARGA DAN PASAR BBM AUSTRALIA

Sumber : Institut Perminyakan Australia


HARGA INTERNASIONAL

+ Minyak mentah, bensin, dan solar diperjualbelikan di pasarnya tersendiri.
+ Tiap pasar komoditi tersebut berbasis kawasan (regional based) dan diperbolehkan membuka link informasi serta transaksi antara masing-masing pasar regional.
+ Harga di pasar regional mencerminkan keseimbangan pasokan dan permintaan, karakteristik fisik dan kualitas tiap komoditi energi tersebut di masing-masing pasar.
+ Harga komoditi energi di pasar regional dapat berfluktuasi dan bisa bergerak berbeda arah pada masing-masing pasar. Hal ini disebabkan sejumlah faktor yang unik antara satu pasar dengan pasar yang lain seperti tekanan pasokan dan permintaan, badai, perang, ataupun kerusuhan massa. Inilah sebabnya mengapa memfokuskan perhatian pada pasar yang relevan dan tren harga jangka panjang merupakan hal yang lebih penting dibandingkan memperhatikan pergerakan harga harian ataupun mingguan.
+ Pasar regional Australia merupakan bagian dari pasar Asia Pasifik.
+ Minyak mentah Tapis merupakan patokan (benchmark) utama untuk kawasan Asia Pasifik dan Australia dan bukannya minyak West Texas Intermediate (patokan pasar AS) seperti yang sering diberitakan di media.
+ Harga patokan Singapore untuk unleaded petrol (MOPS 95) dan diesel (Gasoil) dipakai sebagai harga patokan bensin dan solar di Australia.
+ Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri Australia, sekitar ¼ kebutuhan BBM dalam negeri diimpor dari Singapura. Singapura menjadi pilihan Australia karena menjadi salah satu pusat pengilangan dan distribusi terbesar di dunia.
+ Jika harga jual bensin dan solar di Australia lebih rendah dari harga Singapura maka pemasok/importir BBM Australia tidak akan mendapatkan insentif perdagangan/margin keuntungan saat mengimpor untuk pasar Australia (hal ini terjadi karena BBM dijual rugi atau dijual dengan harga dibawah harga beli). Namun di lain pihak kilang Australia akan mendapat keuntungan saat mengekspor hasil olahannya.
+ Margin kilang merupakan selisih antara harga produk dengan harga minyak mentah. Kedua harga ini dibentuk oleh kekuatan pasar, bukan oleh perusahaan minyak. Sebagai contoh : Margin kilang untuk bensin Singapura adalah selisih antara harga pasar untuk MOPS 95 dikurangi harga minyak Tapis.


HARGA WHOLESALE BBM AUSTRALIA

Harga wholesale BBM Australia untuk jenis bensin dan solar biasa disebut Terminal Gate Prices/TGP dikaitkan langsung dengan harga bensin dan solar Singapura dan tidak dikaitkan dengan minyak Tapis. Hubungan harga dua kawasan ini telah dilakukan sejak lama. Berdasarkan pernyataan publik, para pedagang BBM wholesale Australia telah menggunakan metode penetapan harga yang hampir sama seperti yang dipakai ACCC dimana harga BBM wholesale telah diatur oleh pemerintah Australia. Metode penetapan harga ini disebut Import Parity Pricing atau IPP dimana harga BBM ditetapkan berdasarkan biaya impor masuk ke Australia.

Harga bensin Singapura ditambah biaya pengiriman ditambah pajak pemerintah Australia merupakan formula harga BBM wholesale untuk jenis bensin. Formula harga BBM ini mencapai 95% dari total harga TGP. Pajak BBM di Australia termasuk cukai sebesar 38 sen per liter dan GST (pajak negara bagian sebesar 10%). Sedangkan sisa 5% dari harga TGP berisi asuransi, biaya premi kualitas untuk memenuhi standar bahan bakar Australia, biaya bongkar muat dan terminal lokal, dan margin pemasaran wholesale.


HARGA BBM RETAIL/HARGA SPBU

Saat BBM keluar dari gerbang terminal maka harga retail BBM begitu bervariasi antara satu kota ataupun kawasan dengan yang lainnya. Ini merupakan cerminan dari faktor daerah dan persaingan. Harga TGP mencapai 95% dari harga retail. Sebagai bagian dari TGP, harga BBM di SPBU Australia juga mencerminkan semua biaya saat pengambilan dari kilang/terminal menuju SPBU. Biaya ini meliputi biaya transportasi, pemasaran dan administrasi, serta biaya operasional SPBU seperti gaji/upah, sewa tempat, serta pemeliharaan. Kemampuan dalam menutup biaya itu sangat tergantung pada persaingan di tingkat lokal. Hanya sejumlah porsi kecil dari harga BBM di SPBU (sekitar 5%) yang diterima oleh distributor maupun retailer BBM untuk menutup biaya-biaya tersebut.

Harga BBM retail di daerah perkotaan mengikuti siklus diskon yang secara historis berkisar hingga 12 sen per liter. Para pembeli di kota-kota besar begitu akrab dengan siklus diskon ini yang terjadi secara mingguan. Harga terendah biasanya terjadi saat awal minggu. Saat harga rendah biasanya pemilik kendaraan membeli dalam jumlah besar dan para pemilik SPBU memonitor harga yang telah didiskon tersebut. Harga BBM di SPBU biasanya turun secara bertahap akibat para pemilik atau operator SPBU memberlakukan diskon untuk menarik pembeli yang lebih banyak. Namun demikian, diskon maksimum hanya berjalan singkat dan akhirnya harga kembali ke level normal.

Hasil analisa (termasuk yang dilakukan oleh ACCC) mengatakan bahwa harga BBM tidak akan naik dikarenakan libur panjang ataupun hari libur bersama. Konsumen sangat diuntungkan saat membeli BBM dengan diskon tertinggi dimana harga menyentuh level terendah. ACCC memberikan anjuran saat harga menyentuh level terendah pada suatu minggu dan juga memberikan estimasi bahwa 60% dari penjualan BBM masih dibawah harga rata-rata dari siklus. Berdasarkan ACCC, siklus diskon merupakan cerminan dari upaya persaingan. Perusahaan minyak besar hanya memberlakukan harga jual BBM secara tetap di sebagian kecil SPBUnya (5-10%), dan umumnya terdapat di kota besar.

HARGA BBM DI KOTA BESAR VS KOTA KECIL

Harga BBM umumnya stabil di daerah kota kecil atau pedesaan dikarenakan jarangnya diskon harga. Jarangnya diskon yang diberlakukan SPBU di kawasan kota kecil dan pedesaan bisa diartikan bahwa harga di kawasan tersebut relatif tinggi dibandingkan harga di kota-kota besar. Margin SPBU di kota kecil pun lebih tinggi dibandingkan SPBU di kota besar akibat lebih sedikitnya volume penjualan dimana hal ini dipakai untuk menutup biaya operasional SPBU. Rata-rata jumlah pelanggan di tiap SPBU Australia mencapai 2000 orang dan jumlah ini sedikit turun di SPBU kota kecil sedangkan untuk SPBU kota besar dan metropolitan jumlah pelanggannya bisa mencapai 4000 hingga 5000 orang. SPBU di kota kecil umumnya menjual BBM sebanyak 1 tangki selama 2 sampai 3 minggu, sedangkan SPBU di kota besar bisa menjual beberapa tangki dalam sehari. Biaya pengiriman untuk SPBU di kota kecil lebih mahal 1.5 hingga 3 sen per liter daripada untuk SPBU kota besar. Biaya distribusi pun menjadi hal yang signifikan untuk SPBU kota-kota kecil karena BBM harus disimpan dan dipindahkan dua kali dibandingkan dengan SPBU yang jaraknya dekat dengan terminal di daerah pesisir. Kekuatan persaingan dan biaya sangatlah bervariasi antara masing-masing kota kecil sehingga harga BBM di SPBU tidak hanya mencerminkan perbedaan biaya pengiriman dan pengelolaan. Harga BBM di SPBU kota-kota kecil umumnya ditentukan oleh pemilik atau operator swasta.

HARGA DAN PERSAINGAN

Berdasarkan standar internasional, Australia memiliki harga bensin dan solar yang termurah, dimana harga BBM saat ini hampir sama seperti harga BBM pada tahun 1980an (dengan nilai dolar sekarang). Hal ini disebabkan oleh pasar minyak Australia yang begitu kompetitif. Kondisi ini merupakan penilaian dari sejumlah pemerintahan negara serta analis dan komentator, termasuk didalamnya ACCC dan International Energy Agency. Seluruh rantai pasokan untuk minyak mentah dan BBM di Australia terkait secara integral dan dikelola oleh sejumlah pihak yang terpilih dan secara konsisten menciptakan pasar yang penuh kompetisi.


KEUNTUNGAN PERUSAHAAN MINYAK BESAR

Keuntungan yang didapat oleh perusahaan minyak begitu berfluktuasi akibat sifat alamiah pasar dan umumnya tidak meraih keuntungan yang besar pada harga retail. Contohnya : saat keuntungan meningkat dalam beberapa tahun terakhir, rata-rata keuntungan yang didapat perusahaan minyak selama 10 tahun terakhir (didalamnya termasuk keuntungan dari kilang, operasi wholesale dan retail) hanya mencapai 1 sen per liter. Perkembangan terbaru dalam kinerja keuangan dari sektor ini telah memberikan aliran kas untuk membantu upaya investasi industri ini sebesar lebih dari US$ 2 miliar dalam program bahan bakar bersih dan peningkatan kemampuan kilang untuk menjamin pasokan bahan bakar. Investasi ini menghasilkan keuntungan lingkungan yang signifikan terutama pengembangan kualitas udara di daerah kota besar. Sejak 1997 perusahaan minyak besar telah menginvestasikan dana sebesar US$ 5 miliar dalam industri perminyakan hilir Australia. Aset industri minyak di Australia mencapai lebih dari US$ 15 miliar.

BBMWATCH PRICE EUROPE Edisi OKT 2007 – JAN 2008

BBMWATCH PRICE EUROPE Edisi OKTOBER 2007

(Semua harga telah dikonversi ke dalam Rp sesuai nilai kurs terbaru)

+ Austria : (Rp 15.760/liter – Unleaded), (Rp 14.760/liter – Diesel)
+ Belgia : (Rp 19.400/liter – Unleaded), (Rp 15.430/liter – Diesel)
+ Rep Ceko : (Rp 15.120/liter – Unleaded), (Rp 14.500/liter – Diesel)
+ Denmark : (Rp 18.445/liter – Unleaded), (Rp 16.850/liter – Diesel)
+ Finlandia : (Rp 17.495/liter – Unleaded), (Rp 13.930/liter – Diesel)
+ Perancis : (Rp 17.345/liter – Unleaded), (Rp 15.230/liter – Diesel)
+ Jerman : (Rp 18.110/liter – Unleaded), (Rp 16.090/liter – Diesel)
+ Yunani : (Rp 14.275/liter – Unleaded), (Rp 13.850/liter – Diesel)
+ Belanda : (Rp 20.035/liter – Unleaded), (Rp 15.540/liter – Diesel)
+ Hongaria : (Rp 15.655/liter – Unleaded), (Rp 14.955/liter – Diesel)
+ Irlandia : (Rp 15.830/liter – Unleaded), (Rp 14.885/liter – Diesel)
+ Italia : (Rp 17.955/liter – Unleaded), (Rp 17.345/liter – Diesel)
+ Luksembourg : (Rp 15.450/liter – Unleaded), (Rp 13.260/liter – Diesel)
+ Estonia : (Rp 11.700/liter – Unleaded), (Rp 11.430/liter – Diesel)
+ Norwegia : (Rp 21.700/liter – Unleaded), (Rp 19.360/liter – Diesel)
+ Latvia : (Rp 13.735/liter – Unleaded), (Rp 13.145/liter – Diesel)
+ Lithuania : (Rp 13.440/liter – Unleaded), (Rp 13.185/liter – Diesel)
+ Polandia : (Rp 16.280/liter – Unleaded), (Rp 14.400/liter – Diesel)
+ Slowakia : (Rp 15.855/liter – Unleaded), (Rp 15.960/liter – Diesel)
+ Slovenia : (Rp 13.490/liter – Unleaded), (Rp 13.440/liter – Diesel)
+ Portugal : (Rp 18.150/liter – Unleaded), (Rp 15.280/liter – Diesel)
+ Spanyol : (Rp 14.440/liter – Unleaded), (Rp 13.300/liter – Diesel)
+ Swedia : (Rp 17.460/liter – Unleaded), (Rp 16.630/liter – Diesel)
+ Swiss : (Rp 14.065/liter – Unleaded), (Rp 14.885/liter – Diesel)

****

BBMWATCH PRICE EUROPE Edisi NOVEMBER 2007

(Harga telah dikonversi ke dalam Rp sesuai kurs terbaru)

+ Austria : (Rp 16.770/liter – Unleaded), (Rp 15.760/liter – Diesel)
+ Belgia : (Rp 20.570/liter – Unleaded), (Rp 17.300/liter – Diesel)
+ Rep Ceko : (Rp 15.760/liter – Unleaded), (Rp 15.900/liter – Diesel)
+ Denmark : (Rp 19.480/liter – Unleaded), (Rp 18.450/liter – Diesel)
+ Finlandia : (Rp 18.650/liter – Unleaded), (Rp 15.750/liter – Diesel)
+ Perancis : (Rp 18.580/liter – Unleaded), (Rp 16.690/liter – Diesel)
+ Jerman : (Rp 19.860/liter – Unleaded), (Rp 18.400/liter – Diesel)
+ Yunani : (Rp 14.840/liter – Unleaded), (Rp 14.900/liter – Diesel)
+ Belanda : (Rp 21.050/liter – Unleaded), (Rp 16.970/liter – Diesel)
+ Hongaria : (Rp 15.350/liter – Unleaded), (Rp 14.660/liter – Diesel)
+ Irlandia : (Rp 16.420/liter – Unleaded), (Rp 16.200/liter – Diesel)
+ Italia : (Rp 18.870/liter – Unleaded), (Rp 18.300/liter – Diesel)
+ Luksembourg : (Rp 15.630/liter – Unleaded), (Rp 13.420/liter – Diesel)
+ Estonia : (Rp 11.650/liter – Unleaded), (Rp 11.390/liter – Diesel)
+ Norwegia : (Rp 21.370/liter – Unleaded), (Rp 18.960/liter – Diesel)
+ Latvia : (Rp 13.380/liter – Unleaded), (Rp 12.800/liter – Diesel)
+ Lithuania : (Rp 12.200/liter – Unleaded), (Rp 12.440/liter – Diesel)
+ Polandia : (Rp 16.200/liter – Unleaded), (Rp 14.500/liter – Diesel)
+ Slowakia : (Rp 16.000/liter – Unleaded), (Rp 16.500/liter – Diesel)
+ Slovenia : (Rp 14.300/liter – Unleaded), (Rp 14.250/liter – Diesel)
+ Portugal : (Rp 18.150/liter – Unleaded), (Rp 15.390/liter – Diesel)
+ Spanyol : (Rp 14.960/liter – Unleaded), (Rp 14.350/liter – Diesel)
+ Swedia : (Rp 18.330/liter – Unleaded), (Rp 18.000/liter – Diesel)
+ Swiss : (Rp 15.140/liter – Unleaded), (Rp 16.150/liter – Diesel)

****

BBMWATCH PRICE EUROPE Edisi DESEMBER 2007

(Harga telah dikonversi ke dalam Rp sesuai kurs terbaru)

+ Austria : (Rp 17.000/liter – Unleaded), (Rp 16.600/liter – Diesel)
+ Belgia : (Rp 20.300/liter – Unleaded), (Rp 16.800/liter – Diesel)
+ Rep Ceko : (Rp 17.000/liter – Unleaded), (Rp 17.200/liter – Diesel)
+ Denmark : (Rp 20.000/liter – Unleaded), (Rp 18.700/liter – Diesel)
+ Finlandia : (Rp 18.700/liter – Unleaded), (Rp 15.900/liter – Diesel)
+ Perancis : (Rp 18.900/liter – Unleaded), (Rp 17.100/liter – Diesel)
+ Jerman : (Rp 18.500/liter – Unleaded), (Rp 17.700/liter – Diesel)
+ Yunani : (Rp 14.900/liter – Unleaded), (Rp 15.400/liter – Diesel)
+ Belanda : (Rp 21.300/liter – Unleaded), (Rp 16.900/liter – Diesel)
+ Hongaria : (Rp 17.000/liter – Unleaded), (Rp 17.200/liter – Diesel)
+ Irlandia : (Rp 16.800/liter – Unleaded), (Rp 16.600/liter – Diesel)
+ Italia : (Rp 19.300/liter – Unleaded), (Rp 19.200/liter – Diesel)
+ Luksembourg : (Rp 16.000/liter – Unleaded), (Rp 13.700/liter – Diesel)
+ Estonia : (Rp 12.300/liter – Unleaded), (Rp 13.500/liter – Diesel)
+ Norwegia : (Rp 21.700/liter – Unleaded), (Rp 20.900/liter – Diesel)
+ Latvia : (Rp 13.800/liter – Unleaded), (Rp 14.700/liter – Diesel)
+ Lithuania : (Rp 14.300/liter – Unleaded), (Rp 14.700/liter – Diesel)
+ Polandia : (Rp 18.000/liter – Unleaded), (Rp 16.900/liter – Diesel)
+ Slowakia : (Rp 17.200/liter – Unleaded), (Rp 18.000/liter – Diesel)
+ Slovenia : (Rp 14.600/liter – Unleaded), (Rp 14.700/liter – Diesel)
+ Portugal : (Rp 19.300/liter – Unleaded), (Rp 16.700/liter – Diesel)
+ Spanyol : (Rp 15.300/liter – Unleaded), (Rp 14.700/liter – Diesel)
+ Swedia : (Rp 18.000/liter – Unleaded), (Rp 17.300/liter – Diesel)
+ Swiss : (Rp 15.200/liter – Unleaded), (Rp 16.500/liter – Diesel)

****

BBMWATCH PRICE EUROPE Edisi JANUARI 2008

(Harga telah dikonversi ke dalam Rp sesuai kurs terbaru)

+ Austria : (Rp 16.600/liter – Unleaded), (Rp 16.200/liter – Diesel)
+ Belgia : (Rp 19.800/liter – Unleaded), (Rp 16.400/liter – Diesel)
+ Rep Ceko : (Rp 16.600/liter – Unleaded), (Rp 16.800/liter – Diesel)
+ Denmark : (Rp 19.500/liter – Unleaded), (Rp 18.200/liter – Diesel)
+ Finlandia : (Rp 18.200/liter – Unleaded), (Rp 15.500/liter – Diesel)
+ Perancis : (Rp 18.500/liter – Unleaded), (Rp 16.700/liter – Diesel)
+ Jerman : (Rp 18.000/liter – Unleaded), (Rp 17.200/liter – Diesel)
+ Yunani : (Rp 14.600/liter – Unleaded), (Rp 15.000/liter – Diesel)
+ Belanda : (Rp 20.700/liter – Unleaded), (Rp 16.500/liter – Diesel)
+ Hongaria : (Rp 16.600/liter – Unleaded), (Rp 16.800/liter – Diesel)
+ Irlandia : (Rp 16.300/liter – Unleaded), (Rp 16.100/liter – Diesel)
+ Italia : (Rp 18.800/liter – Unleaded), (Rp 18.700/liter – Diesel)
+ Luksembourg : (Rp 15.500/liter – Unleaded), (Rp 13.400/liter – Diesel)
+ Estonia : (Rp 12.000/liter – Unleaded), (Rp 13.100/liter – Diesel)
+ Norwegia : (Rp 21.200/liter – Unleaded), (Rp 20.400/liter – Diesel)
+ Latvia : (Rp 13.400/liter – Unleaded), (Rp 14.300/liter – Diesel)
+ Lithuania : (Rp 13.900/liter – Unleaded), (Rp 14.300/liter – Diesel)
+ Polandia : (Rp 17.500/liter – Unleaded), (Rp 16.400/liter – Diesel)
+ Slowakia : (Rp 16.800/liter – Unleaded), (Rp 17.600/liter – Diesel)
+ Slovenia : (Rp 14.200/liter – Unleaded), (Rp 14.400/liter – Diesel)
+ Portugal : (Rp 18.800/liter – Unleaded), (Rp 16.200/liter – Diesel)
+ Spanyol : (Rp 14.900/liter – Unleaded), (Rp 14.300/liter – Diesel)
+ Swedia : (Rp 17.500/liter – Unleaded), (Rp 16.800/liter – Diesel)
+ Swiss : (Rp 14.800/liter – Unleaded), (Rp 16.000/liter – Diesel)

BBMWATCH NEWS Edisi SEPT 2007 – FEB 2008

BBMWATCH News Edisi September 2007

+ Harga Motor Gasoline (Mogas) Singapore yang menjadi acuan harga Premium mengalami penurunan cukup besar. Akibatnya harga Keekonomian Premium pada periode September 2007 turun 7% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi Rp 5.945/ Liter. Meski mengalami penurunan, harga ini belum menyentuh harga jual bersubsidi dalam negeri yang mencapai Rp 4.500/liter.

+ Harga Gasoil Singapore yang menjadi acuan harga Solar mengalami kenaikan tipis. Harga keekonomian solar September 2007 naik 1,17% menjadi Rp. 6.254/ Liter. Sama halnya dengan Premium, maka beban subsidi solar (sektor transportasi) juga semakin besar.

+ Hal yang sama juga terjadi pada harga kerosene Singapore sebagai acuan harga minyak Tanah. Harga Keekonomian Minyak tanah pada bulan September 2007 naik 3,2% menjadi Rp. 6.370/ liter, akibatnya subsidi minyak tanah juga akan semakin besar hingga mencapai diatas Rp. 4.000/ liternya.

+ Berdasarkan perhitungan BBMwatch harga Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamina DEX (Solar Grade Tinggi) pada September 2007 nanti diperkirakan berturut-turut sekitar Rp. 6.145, Rp. 6.370, dan Rp. 6.754 per Liternya.

+ Untuk harga Bahan Bakar Nabati/ Biofuel sesuai dengan harga referensi Biodiesel dan Ethanol bulan Juli-September 2007 juga mengalami kenaikan cukup tajam. Diperkirakan harga keekonomian Ethanol (Bio-Premium) dan Biodiesel (Bio-Solar) berturut-turut mencapai angka Rp. 4.625/ liter, dan Rp. 8.050 / Liternya.

+ Harga LPG Saudi Aramco Contract Prices (Aramco CP) berdasar data akhir Agustus 2007 yang dapat menjadi acuan harga keekonomian LPG di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 6.920/Kg.

+ Harga Minyak Mentah BCI-13 (Rata-rata Harga Minyak Mentah dari 13 Negara Pilihan BBMwatch berdasarkan aspek sensitivitas geopolitik & konsistensi volume produksi) mencapai US$ 68.77/ Barel. Total produksi per Agustus dari negara BCI-13 mencapai 49.820.000 barel, sekitar 60% produksi dunia.

****

BBMWATCH NEWS Edisi Oktober 2007

+ Harga Motor Gasoline (Mogas) Singapore yang menjadi acuan harga Premium sedikit mengalami penurunan. Akibatnya harga Keekonomian Premium pada periode Oktober 2007 turun 2,16% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi Rp 5.816/ Liter. Meski mengalami penurunan, harga ini belum menyentuh harga jual bersubsidi dalam negeri yang mencapai Rp 4.500/liter.

+ Harga Gasoil Singapore yang menjadi acuan harga Solar mengalami kenaikan tipis. Harga keekonomian solar Oktober 2007 naik 1,55% menjadi Rp. 6.351/ Liter. Sama halnya dengan Premium, maka beban subsidi solar (sektor transportasi) juga semakin besar.

+ Hal yang sama juga terjadi pada harga kerosene Singapore sebagai acuan harga minyak Tanah. Harga Keekonomian Minyak tanah pada bulan Oktober 2007 naik tipis sebesar 0,25% menjadi Rp. 6.386/ liter, akibatnya subsidi minyak tanah akan sedikit naik hingga mencapai diatas Rp. 4.000/ liternya.

+ Berdasarkan perhitungan BBMwatch, harga Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamina DEX (Solar Grade Tinggi) pada Oktober 2007 nanti diperkirakan berturut-turut mencapai Rp. 6.016, Rp. 6.240, dan Rp. 6.851 per Liternya.

+ Untuk harga Bahan Bakar Nabati/ Biofuel sesuai dengan harga referensi Biodiesel dan Ethanol bulan Juli-September 2007 sedikit mengalami penurunan. Diperkirakan harga keekonomian Ethanol (Bio-Premium) dan Biodiesel (Bio-Solar) berturut-turut mencapai angka Rp. 4.470/ liter, dan Rp. 7.540 / Liternya.

+ Harga LPG Saudi Aramco Contract Prices (Aramco CP) berdasar data akhir September 2007 yang dapat menjadi acuan harga keekonomian LPG bulan Oktober 2007 di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 5.850/Kg.

+ Harga Minyak Mentah BCI-13 (Rata-rata Harga Minyak Mentah dari 13 Negara Pilihan BBMwatch berdasarkan aspek sensitivitas geopolitik & konsistensi volume produksi) mencapai US$ 70.82/ Barel. Total produksi per September 2007 dari negara BCI-13 mencapai 50.290.000 barel, sekitar 60% produksi dunia.


****

BBMWATCH NEWS Edisi November 2007

+ Harga Motor Gasoline (Mogas) Singapore yang menjadi acuan harga Premium mengalami kenaikan cukup tinggi. Akibatnya harga Keekonomian Premium pada periode November 2007 naik 5,27% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi Rp 6.123/ Liter. Kenaikan yang cukup tinggi ini akibat harga minyak dunia yang terus mengalami kenaikan selama 1 minggu terakhir hingga menyentuh level US$ 90/barel.

+ Harga Gasoil Singapore yang menjadi acuan harga Solar terus menguat. Harga keekonomian solar November 2007 naik 4,89% menjadi Rp. 6.662/ Liter. Sama halnya dengan Premium, maka beban subsidi solar (sektor transportasi) juga semakin besar.

+ Hal yang sama juga terjadi pada harga kerosene Singapore sebagai acuan harga minyak tanah. Harga Keekonomian minyak tanah pada bulan November 2007 naik cukup besar yaitu 4,64% menjadi Rp. 6.682/ liter, akibatnya subsidi minyak tanah akan terus naik hingga mencapai diatas Rp. 4.600/ liternya.

+ Berdasarkan perhitungan BBMwatch, harga Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamina DEX (Solar Grade Tinggi) pada November 2007 nanti diperkirakan berturut-turut mencapai Rp. 6.323, Rp. 6.575 , dan Rp. 7.362 per Liternya.

+ Untuk harga Bahan Bakar Nabati/ Biofuel sesuai dengan harga referensi Biodiesel dan Ethanol bulan Oktober-Desember 2007 diperkirakan berturut-turut mencapai angka Rp. 4.050/ liter (Ethanol/Bio-Premium) , dan Rp. 8.490 / liternya (Biodiesel/Biosolar).

+ Harga LPG Saudi Aramco Contract Prices (Aramco CP) berdasar data akhir Oktober 2007 yang dapat menjadi acuan harga keekonomian LPG bulan November 2007 di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 6.510/Kg.

+ Harga Minyak Mentah BCI-13 (Rata-rata Harga Minyak Mentah dari 13 Negara Pilihan BBMwatch berdasarkan aspek sensitivitas geopolitik & konsistensi volume produksi) mencapai US$ 78.15/ Barel. Total produksi per Oktober 2007 dari negara BCI-13 mencapai 49.780.000 barel, sekitar 60% produksi dunia.

****

BBMWATCH NEWS Edisi Desember 2007

+ Harga Motor Gasoline (Mogas) Singapore yang menjadi acuan harga Premium mengalami kenaikan cukup tajam. Akibatnya harga Keekonomian Premium pada periode Desember 2007 naik 12,6% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi Rp 6.896/ Liter. Kenaikan yang cukup tinggi ini akibat harga minyak dunia yang terus mengalami kenaikan selama beberapa hari terakhir hingga menyentuh level US$ 99/barel.

+ Harga Gasoil Singapore yang menjadi acuan harga Solar terus menguat. Harga keekonomian solar Desember 2007 naik 10% menjadi Rp. 7.326/ Liter. Sama halnya dengan Premium, maka beban subsidi solar (sektor transportasi) juga semakin besar.

+ Hal yang sama juga terjadi pada harga kerosene Singapore sebagai acuan harga minyak tanah. Harga Keekonomian minyak tanah pada bulan Desember 2007 naik cukup besar yaitu 14,15% menjadi Rp. 7.628/ liter, akibatnya subsidi minyak tanah akan terus naik hingga diatas Rp. 5.600/ liternya.

+ Berdasarkan perhitungan BBMwatch, harga Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamina DEX (Solar Grade Tinggi) pada Desember 2007 nanti diperkirakan berturut-turut mencapai Rp. 7.096, Rp. 7.345 , dan Rp. 7.925 per Liternya.

+ Untuk harga Bahan Bakar Nabati/ Biofuel sesuai dengan harga referensi Biodiesel dan Ethanol bulan Oktober-Desember 2007 diperkirakan berturut-turut mencapai angka Rp. 4.220/ liter (Ethanol/Bio-Premium) , dan Rp. 9.870 / liternya (Biodiesel/Biosolar).

+ Harga LPG Saudi Aramco Contract Prices (Aramco CP) berdasar data akhir November 2007 yang dapat menjadi acuan harga keekonomian LPG bulan Desember 2007 di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 7.500/Kg.

+ Harga Minyak Mentah BCI-13 (Rata-rata Harga Minyak Mentah dari 13 Negara Pilihan BBMwatch berdasarkan aspek sensitivitas geopolitik & konsistensi volume produksi) mencapai US$ 90.13/ Barel. Total produksi per November 2007 dari negara BCI-13 mencapai 50.080.000 bph, sekitar 60% produksi dunia.

****

BBMWATCH NEWS Edisi Januari 2008

+ Harga Motor Gasoline (Mogas) Singapore yang menjadi acuan harga Premium mengalami kenaikan cukup tajam. Akibatnya harga Keekonomian Premium pada periode Januari 2008 naik 6.3% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi Rp 7.330/ Liter. Kenaikan yang cukup tinggi ini akibat harga minyak dunia yang stabil di level tinggi diatas US$ 90/barel selama beberapa minggu terakhir.

+ Harga Gasoil Singapore yang menjadi acuan harga Solar terus menguat. Harga keekonomian solar Januari 2008 naik 6.7% menjadi Rp. 7.816/ Liter. Sama halnya dengan Premium, maka beban subsidi solar (sektor transportasi) juga semakin besar.

+ Hal yang sama juga terjadi pada harga kerosene Singapore sebagai acuan harga minyak tanah. Harga Keekonomian minyak tanah pada bulan Januari 2008 naik cukup besar yaitu 7% menjadi Rp. 8.159/ liter, akibatnya subsidi minyak tanah akan terus naik hingga diatas Rp. 6.000/ liternya.

+ Berdasarkan perhitungan BBMwatch, harga Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamina DEX (Solar Grade Tinggi) pada Januari 2008 nanti diperkirakan berturut-turut mencapai Rp. 7.750, Rp. 8.000, dan Rp. 8.750 per Liternya.

+ Untuk harga Bahan Bakar Nabati/ Biofuel sesuai dengan harga referensi Biodiesel dan Ethanol bulan Desember 2007 diperkirakan berturut-turut mencapai angka Rp. 4.200/liter (Ethanol/Bio-Premium) , dan Rp. 10.100/liternya (Biodiesel/Biosolar).

+ Harga LPG Saudi Aramco Contract Prices (Aramco CP) berdasar data akhir Desember 2007 yang dapat menjadi acuan harga keekonomian LPG bulan Januari 2008 di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 8.900/Kg.

+ Harga Minyak Mentah BCI-13 (Rata-rata Harga Minyak Mentah dari 13 Negara Pilihan BBMwatch berdasarkan aspek sensitivitas geopolitik & konsistensi volume produksi) mencapai US$ 88.54/ Barel. Total produksi per Desember 2007 dari negara BCI-13 mencapai 50.960.000 bph, sekitar 60% produksi dunia.

****

BBMWATCH NEWS Edisi Februari 2008

+ Harga Motor Gasoline (Mogas) Singapore yang menjadi acuan harga Premium mengalami kenaikan cukup signifikan. Akibatnya harga Keekonomian Premium pada periode Februari 2008 naik 3,8% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi Rp 7.611/ Liter. Kenaikan yang cukup tinggi ini akibat harga minyak dunia yang stabil diatas US$ 95/barel selama 2 minggu pertama bulan Januari 2008.

+ Harga Gasoil Singapore yang menjadi acuan harga Solar terus menguat. Harga keekonomian solar Februari 2008 naik 4,2% menjadi Rp. 8.148/ Liter. Sama halnya dengan Premium, maka beban subsidi solar (sektor transportasi) juga semakin besar.

+ Hal yang sama juga terjadi pada harga kerosene Singapore sebagai acuan harga minyak tanah. Harga Keekonomian minyak tanah pada bulan Februari 2008 naik tipis yaitu 0,38% menjadi Rp. 8.190/ liter, akibatnya subsidi minyak tanah akan terus naik hingga diatas Rp. 6.100/ liternya.

+ Berdasarkan perhitungan BBMwatch, harga Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamina DEX (Solar Grade Tinggi) pada Februari 2008 nanti diperkirakan berturut-turut mencapai Rp. 7.500, Rp. 7.850, dan Rp. 8.900 per Liternya.

+ Untuk harga Bahan Bakar Nabati/ Biofuel sesuai dengan harga referensi Biodiesel dan Ethanol bulan Januari 2008 diperkirakan berturut-turut mencapai angka Rp. 4.800/liter (Ethanol/Bio-Premium) , dan Rp. 10.900/liternya (Biodiesel/Biosolar).

+ Harga LPG Saudi Aramco Contract Prices (Aramco CP) berdasar data akhir Januari 2008 yang dapat menjadi acuan harga keekonomian LPG bulan Februari 2008 di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 9.000/Kg.

+ Harga Minyak Mentah BCI-13 (Rata-rata Harga Minyak Mentah dari 13 Negara Pilihan BBMwatch berdasarkan aspek sensitivitas geopolitik & konsistensi volume produksi) mencapai US$ 88.91/ Barel. Total produksi per Januari 2008 dari negara BCI-13 mencapai 51.120.000 bph, sekitar 60% produksi dunia.